Gubernur Maluku Berharap Kontribusi Akademisi dalam Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Blok Masela

[Unpad.ac.id, 19/04/2016] Ada dua isu mengemuka yang saat ini mengemuka di Provinsi Maluku, yaitu potensi gas di Blok Masela Kabupaten Maluku Barat Daya, serta soal tambang emas di Gunung Botak Kabupaten Buru. Dua isu ini membutuhan dorongan para akademisi untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan dua permasalahan tersebut.

Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaf, dan Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, di Ruang Rektor Unpad Jln. Dipati Ukur 35 bandung, Selasa (19/04). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaf, dan Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, di Ruang Rektor Unpad Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (19/04). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaf, mengatakan, potensi alam di Blok Masela dan Gunung Botak terbilang luar biasa. Lokasi blok yang terletak sekitar 1.000 mil dari perbatasan Australia ini disinyalir oleh para ahli sebagai ladang gas abadi. Titik terang pengelolaan blok Masela ini semakin menguat pascakeputusan Presiden RI Joko Widodo untuk membangun kilang gas secara onshore (di darat).

“Dengan dibangun kilang secara onshore, ini akan mendorong penguatan sumber daya manusia di kawasan blok Masela,” kata Said saat memberikan sambutan dalam Diskusi “Maluku: Potensi dan Tantangan, Khususnya Rehabilitasi Lahan dan Blok Masela” di Ruang Serba Guna Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Selasa (19/04).

Diskusi yang diselenggarakan atas kerja sama Universitas Padjadjaran dan Pemprov Maluku ini menghadirkan pembicara Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. J.M. Saptenno, SH., M.Hum., dan Dosen Fakultas Pertanian Unpad Dr. Ir. Reginawanti Hindersah, M.T., dengan moderator Prof. Dr. Soetyastie Soemitro Remi, S.E., M.S. Turut hadir Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad, Bupati dan Kepala Dinas di Provinsi Maluku, pimpinan Unpad, Guru Besar, dan civitas academica Unpad.

Sementara di kawasan Gunung Botak, Said mengatakan lokasi ini dinilai menyimpan kandungan emas yang tinggi. Ia mengatakan, berdasarkan hasil survei para ahli universitas di Indonesia, ada sekitar 18 juta gram emas di dalam 6 juta meter kubik sedimen yang terlarut di Sungai Anahoni. Namun, potensi ini berbanding terbalik dengan tingkat kesuburan lahan di kawasan tersebut.

“Saat ini kegiatan pertambangan secara ilegal memicu banyaknya masalah sosial dan alam, kita ingin eksplorasi yang dilakukan bisa berjalan dengan baik,” kata Said.

Pada penanganan blok Masela, Prof. Saptenno mengatakan Unpatti telah didorong pemerintah untuk menjadi perguruan tinggi yang berkontribusi terhadap pengembangan lokasi tersebut. Penguatan SDM menjadi salah satu fokus yang akan dilakukan Unpatti.

Menurut Prof. Sapteno, Unpatti telah didorong untuk membuka program studi yang berkaitan dengan kebutuhan sumber daya alam di Blok Masela, seperti Geologi dan Energi. Selain itu, pihaknya juga merencanakan untuk membangun program vokasional, serta penyelenggaraan Pendidikan di Luar Domisili.

“Pengelolaan gas ini juga turut dikembangkan berbagai macam turunannya. Untuk itu, selain penyiapan SDM di bidang pertambangan, kita akan menyiapkan SDM di bidang ekonomi, hukum, serta pariwisata,” kata Prof. Saptenno.

Pihaknya juga akan mengembangkan serangkaian kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, termasuk dengan Unpad. “Ini membutuhkan perhatian banyak pihak. Kalau tidak kita siapkan dengan baik, nasibnya akan sama dengan yang di Aceh ataupun kasus Freeport di Papua,” kata Prof. Saptenno.

Sementara dari segi masalah lingkungan di area pertambangan Gunung Botak, Dr. Reginawanti Hindersah menemukan kerusakan di wilayah tersebut sangat berat. Ia mengatakan, kandungan emas di wilayah tersebut bukan tergolong emas primer.

“Produk eksploitasi saat ini lebih banyak tailing (limbah murni) daripada emas. Pertambangan di situ ilegal, mereka membuang galian sembarangan. Banyak logam berat sisa proses pertambangan yang akan masuk ke area pesawahan,” kata Dr. Reginawanti Hindersah.

Dosen yang lama melakukan penelitian dan kerja sama di wilayah Maluku ini mengatakan, kawasan Gunung Botak kini tercemar merkuri dan sianida, dua logam berat yang digunakan untuk mengekstrak emas. Setidaknya, sekitar 350 ha lahan di kecamatan Waeapo dan Kaeli di Kab. Buru mengalami kerusakan akibat pertambangan.

“Selain pencemaran lingkungan, permasalahan lain yang harus segera diatasi adalah konflik sosial masyarakat,” kata Dr. Reginawanti Hindersah.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *