Latar Belakang

Potensi terbesar kepulauan Maluku saat ini adalah produksi perikanan dengan berbagai jenis ikan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal dan nasional, tapi juga mampu untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Saat ini sumber daya perikanan masih dikelola oleh nelayan dengan kemampuan tangkap yang masih terbatas, artinya potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Potensi lain yang dominan adalah kelapa, saat ini sebagian besar diolah menjadi kopra, belum ada produk olahan baru yang mampu dikembangkan masyarakat.  Perkembangan produk kelapa menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, sehubungan dengan kurangnya peremajaan pohon kelapa (penggantian pohon yang sudah tua, dengan pohon yang lebih produktif). Investasi peremajaan pohon kelapa menjadi kurang menarik karena harga kelapa, tidak menjadi insentif bagi petani, Sehubungan dengan kelapa masih menjadi komoditas andalan masyarakat, maka peremajaan pohon menjadi sangat penting, disertai dengan upaya diversifikasi pengolahan produknya.

Tanaman penting yang pernah menjadi bahan pokok sumber karbohidrat, sagu mulai ditinggalkan. Lahan sagu diganti dengan sawah di saat permintaan sagu dunia meningkat.  Indikasi gegrafis  kayu putih adalah andalan kehidupan masyarakat dan berkontribusi untuk memenuhi keperluan minyak kayu putih nasional.

Potensi lain yang merupakan komoditas tradisional adalah rempah-rempah (Pala, Cengkeh, dll.), komoditas ini tetap menjadi komoditas yang diandalkan masyarakat, namun saat ini tidak menunjukkan perkembangan yang positif sehubungan dengan makin rendahnya produktivitas, karena pohon sudah mulai tua. Upaya-upaya untuk tetap mempertahankan sebagai produsen rempah-rempah yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap kebutunan rempah-rempah dunia, tentu saja membutuhkan investasi dan sumberdaya manusia yang lebih baik.

Selain komoditas tradisional, pada beberapa kabupaten di Kepulauan Maluku sangat potensial sebagai penghasil pangan, bahkan dapat dijadikan sumber pangan regional atau nasional.   Tanaman pangan tradisional seperti berbagai jenis ubi, jagung, padi, pisang serta tanaman palawija seperti kacang-kacangan dan sayuran dimanfaatkan dan dikembangkan. Komoditas ini memberi manfaat baik dari sisi pemenuhan gizi maupun ekonomi.

Upaya paling penting untuk supaya potensi tersebut mampu dikonversikan menjadi produk yang bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan adalah upaya memperbaiki kualitas SDM di kedua Propinsi tersebut.  Kondisi SDM saat ini, Propinsi kepulauan Maluku (Maluku dan Maluku Utara) Indek pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan angka masih dibawah rata-rata nasional, tahun 2014 IPM nasional bernilai 68,90, sedangkan Maluku sebesar 66,74 dan Maluku Utara sebesar 65,18.  Pada tahun berikutnya (2015) kedua Propinsi tersebut mengalami kenaikan menjadi 67,05 untuk Maluku dan 65,91 untuk Maluku Utara.  Akselerasi indikator kualitas SDM salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi, antara lain Universitas Padjadjaran.