Unpad Ikut Dukung Ekspedisi Bhakti Kesra Nusantara 2016 ke NTB, Maluku, dan Papua

Unpad.ac.id, 25/04/2016] Universitas Padjadjaran menjadi perguruan tinggi pendukung Ekspedisi Bhakti Kesra Nusantara 2016 yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) 30 April – 29 Mei mendatang. Sebanyak 8 mahasiswa, 5 alumni, 5 dosen, serta 2 mitra Unpad akan mengikuti ekspedisi pelayaran tersebut.

Dosen Fakultas Pertanian Unpad, Dr. Ir. Reginawanti Hindersah, M.T., salah satu anggota tim Ekspedisi Bhakti Kesra Nusantara 2016 (Foto oleh: Dadan T.)*

Dosen Fakultas Pertanian Unpad, Dr. Ir. Reginawanti Hindersah, M.T., salah satu anggota tim Ekspedisi Bhakti Kesra Nusantara 2016 (Foto oleh: Dadan T.)*

Ekspedisi ini didukung oleh 38 instansi Pemerintah maupun swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, tentara, perbankan, serta Perguruan Tinggi dengan jumlah total anggota mencapai 200 orang. Ekspedisi ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kebersamaan masyarakat di pulau-pulau terpencil di wilayah Indonesia.

Rute ekspedisi ini akan melintasi empat pulau di kawasan Indonesia Timur, yakni Bajo Pulo (Nusa Tenggara Barat), Wetar (Maluku Barat Daya), Saumlaki (Maluku Tenggara Barat), dan Kaimana (Papua) dengan total jarak tempuh 3.668 km. Ekspedisi pelayaran ini akan menggunakan KRI Banda Aceh milik TNI Angkatan Laut.

Dosen Fakultas Pertanian Unpad yang menjadi salah satu anggota tim ekspedisi Dr. Ir. Reginawanti Hindersah, M.T., mengatakan, ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan Unpad pada ekspedisi tersebut, yaitu program pengabdian kepada masyarakat, penelitian, serta memperkenalkan budaya Sunda. Di setiap pulau yang disinggahi, tim Unpad akan memainkan alat musik angklung bersama masyarakat sekitar.

Untuk program pengabdian masyarakat yang akan dilakukan meliputi: pelatihan pertanian hidroponik, penyerahan buku, pembangunan rumah baca dan pemanfaatan perpustakaan, penyerahan sepatu dan seragam sekolah, serta pelatihan kewirausahaan. Sejumlah pihak yang terlibat dalam program sumbangan buku adalah Asia Foundation, Mizan, Kebukit, Rumah Baca Pelangi (Nila Tanzil), Gagas Ceria, Omahsinau dan Litara Foundation.

Sementara untuk aktivitas penelitian, tim akan melakukan inventarisasi berbagai potensi lokal yang dimiliki di setiap pulau yang disinggahi. Penelitian ini melibatkan dosen lintas disiplin ilmu di Unpad serta melibatkan dosen dari Universitas Mataram, Universitas Nusa Cendana, Universitas Pattimura, dan Universitas Papua. Penelitian lainnya yaitu melakukan rancang desain untuk pariwisata pesisir di Pulau Matakus dan Kaimana.

“Kita libatkan akademisi dari PTN terdekat dengan pulau yang disinggahi. Akademisi ini merupakan alumni atau yang pernah melakukan pelatihan di Unpad,” kata Reginawanti saat ditemui Humas Unpad, Senin (25/04).

Reginawanti mengatakan, karakteristik potensi di empat pulau tersebut sangat beragam. Di Pulau Bajo Pulo potensi lokal yang terdefinisi diantaranya pertanian. Pulau ini pada tahun 2015 lalu juga mengalami kebakaran yang menghanguskan lebih dari 200 rumah penduduk.

Di Pulau Wetar dan Saumlaki memiliki potensi di bidang tambang, perikanan, dan pertanian. Di Pulau Saumlaki saat ini juga hangat dengan wacana pembukaan kilang gas onshore terkait potensi gas di Blok Masela. Sementara di Pulau Kaimana memiliki potensi di sektor perikanan dan pariwisata.

Hasil inventarisasi tersebut akan menjadi acuan bagi dosen Unpad melakukan penelitian atau program pengabdian kepada masyarakat. Inventarisasi ini sekaligus menjadi langkah awal pengembangan Pusat Pengembangan Penelitian Indonesia Timur yang akan dibuka oleh Unpad.

Diharapkan inventarisasi ini dapat memperkaya khazanah penelitian di Unpad. Ia menjelaskan, banyak penelitian aplikatif yang acapkali tidak cocok untuk diterapkan di suatu wilayah. “Banyak logika yang belum digali oleh peneliti kita. Ini menjadi bahan pembelajaran bagi peneliti Unpad agar penelitian yang dihasilkan benar-benar dapat diterapkan di lapangan/wilayah tertentu,” papar Reginawanti.

Lebih lanjut dosen yang sering melakukan penelitian di wilayah Maluku ini mengatakan, ekspedisi ke empat pulau ini sangat penting. Dari segi sosial, wilayah Maluku sangat minim terjadi proses akulturasi. Proses ini, kata Reginawanti, menjadi dasar kemajuan suatu wilayah.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *